my note:
Tulisan ini menarik dan bagus sebagai saran sekaligus kritik membangun untuk PKS.
Oleh: M. Qodari
(Direktur Eksekutif, Indo Barometer, Jakarta)
Usai pemilu legislastif, sekarang ini adalah momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja partai politik (parpol) kita. Parpol yang baik merupakan keharusan apabila kita ingin meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia. Partai politik yang buruk akan melahirkan demokrasi yang lemah. Sebaliknya, partai politik yang baik akan melahirkan demokrasi yang kuat.
Terhadap kinerja parpol kita, pada dasarnya hanya ada dua jenis penilaian yang bisa diberikan. Pertama, berhasil. Kedua, gagal. Kriteria penilaian itu pun secara umum bisa dibagi dua. Pertama, kriteria berbasis angka. Kedua, kriteria berbasis non-angka. Karena keterbatasan ruang untuk memudahkan evaluasi kinerja parpol, dalam kesempatan ini fokus evaluasi akan dilakukan pada kinerja Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sambil tetap membahas partai-partai lainya.
*Kriteria Angka*
Evaluasi ini akan dimulai dari kriteria angka. Kriteria angka itu sendiri dapat dibagi dalam beberapa kategori. Kriteria pertama adalah kirteria persentase suara. Parpol yang persentase suaranya naik dianggap berhasil dan yang turun dianggap gagal. Jika kriteria ini dipakai, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bisa dianggap sukses karena suaranya meningkat dari 7,3 persen di Pemilu 2004 menjadi sekitar 8,5 persen dalam Pemilu 2009 ini.
Namun, yang lebih sukses tentulah Partai Demokrat (PD) yang suaranya naik hampir tiga kali lipat, dari 7,5 persen di tahun 2004 menjadi sekitar 20,5 persen di tahun 2009 ini.
Jika PKS dan PD dianggap sukses karena suaranya naik, parpol yang 'kurang sukses' karena suaranya turun adalah Partai Golongan Karya (Golkar), Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Persatuan Pembangunan (PPP),
dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).Adapun Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) tidak ikut dimaksukkan evaluasi ini karena baru sekali ikut pemilu. Sementara itu, kenaikan dan penurunan suara Partai Amanat Nasional (PAN) belum bisa disimpulkan secara definitif karena beberapa *quick count* (QC) berbeda persentase suaranya.
Kriteria angka berikutnya adalah kriteria peringkat. Jika kriteria peringkat yang dipakai, PKS juga bisa disebut berhasil karena peringkat PKS naik dari nomor 6 di Pemilu 2004 ke nomor 4 di Pemilu 2009. Yang paling berhasil tentu saja PD yang posisinya meloncat dari peringkat 5 di Pemilu 2004 ke peringkat 1 di Pemilu 2009. PAN juga sukses karena naik karena dulu peringkat 7
sekarang peringkat 5.
Adapun parpol yang gagal adalah Golkar (turun dari peringkat 1 di Pemilu 2004 ke peringkat 2 atau 3 di Pemilu 2009, ini pastinya menunggu hasil hitungan resmi KPU), PPP (turun dari peringkat 4 ke 6), dan PKB (dari peringkat 3 ke peringkat 6). PDIP di tahun 2004 menempati peringkat 2. Di Pemilu 2009, mungkin PDIP bertahan di peringkat 2 atau mungkin turun ke peringkat 3, tergantung hitungan resmi KPU nanti.
Untuk kriteria kenaikan dan penurunan kursi di DPR RI, analisis masih tentatif karena penghitungan resmi KPU belum selesai. Penghitungan ini menjadi lebih rumit karena adanya variabel baru dalam penghitungan kursi DPR RI, yakni aturan ambang batas atau *parliamentary threshold* untuk pemilu DPR RI. Namun, dari penghitungan sementara, beberapa partai yang jumlah kursinya diperkirakan menurun adalah Golkar, PDIP, PPP, dan PKB. Sementara itu, yang naik adalah PKS dan PD.
Kriteria berbasis angka lainnya adalah soal penyebaran kekuatan parpol. Parpol yang berhasil adalah parpol yang kekuatannya menyebar lebih merata di Pemilu 2009 ini. Parpol yang gagal adalah parpol yang tidak mampu memperluas wilayah kekuatannya. PKS termasuk sangat berhasil karena dulu partai ini hanya kuat di Banjabar (Banten, Jakarta, Jawa Barat), namun kini dapat merebut banyak kursi di wilayah lain, seperti Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan seterusnya. PD juga sangat berhasil. Posisi PD hampir selalu masuk tiga besar di berbagai provinsi. Bahkan, PD bisa menjadi peraih suara tertinggi di beberapa daerah yang dulu dikuasai partai lain, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan seterusnya.
PDIP dan Golkar pada hakikatnya tetap mempertahankan penyebaran suaranya
yang bersifat nasional. Namun, suara Golkar dan PDIP menurun di berbagai wilayah. Yang jelas gagal adalah PKB yang wilayah kekuatannya tidak keluar dari Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.. Bahkan, suara PKB di Jawa Timur yang dulu peringkat 1 kini turun ke peringkat 3 di bawah PD dan PDIP.
*Kriteria Nonangka*
Di luar kriteria angka sebagaimana dipaparkan di atas, penilaian tentang
keberhasilan dan kegagalan parpol juga perlu mempertimbangkan beberapa kriteria penting lainnya yang beyond numbers (di luar/di balik angka-angka).
Beberapa kriteria nonangka itu meliputi ideologi, organisasi, sumber daya, dan kepemimpinan.
Evaluasi terhadap empat kriteria nonangka ini kiranya lebih penting daripada kriteria angka karena bersifat lebih jangka panjang dan mendalam ketimbang
angka-angka. Kriteria nonangka ini penting diikutsertakan dalam evaluasi ini
karena dua alasan. Pertama, kriteria ini mencerminkan kapasitas parpol yang
sesungguhnya untuk menjalankan perannya secara maksimal. Kedua, kriteria angka menyimpan jebakan persoalan tersembunyi. Ada partai yang menurut
kriteria angka mencapai kesuksesan besar, ternyata menyimpan hal yang serius
ketika ditinjau dari kriteria nonangka.
Kriteria ideologi, misalnya. Kriteria ini sangat penting bagi parpol karena parpol pada hakikatnya merupakan wadah perjuangan bagi orang-orang yang memiliki ideologi yang sama untuk mewujudkan ideologi itu dalam kehidupan bangsa dan negara. Adapun ideologi yang dimaksud di sini adalah "suatu sistem gagasan yang menyeluruh tentang kondisi masyarakat yang ada sekarang dan kondisi masyarakat yang dicita-citakan, berikut cara-cara untuk mewujudkannya".
Kriteria ideologi ini penting untuk parpol agar dia memiliki orientasi yang jelas ke mana parpol ini akan dibawa. Jika suatu parpol eksis tanpa ada suatu landasan ideologi yang jelas, parpol tersebut sebetulnya hanya menjadi 'mesin suara' yang mengantarkan caleg menjadi anggota DPR/DPRD atau tokoh partai menjadi capres, cawapres, menteri, ataupun jabatan publik lainnya..
Jika ini yang terjadi, eksistensi parpol tersebut sulit diharapkan untuk membawa kemaslahatan publik yang besar, selain nasibnya tak akan berumur panjang.
Dalam konteks ini, hanya sedikit parpol besar kita yang telah memiliki landasan ideologi yang dijabarkan secara jelas, menyeluruh, dan detail dalam satu dokumen yang utuh (sebutlah: "*platform* partai"). Sampai sejauh ini, saya baru menemukan satu partai yang membuat *platform* partai, yakni PKS. Saya belum menemukan dokumen sejenis untuk Golkar yang notabene partai senior dan PD yang merupakan pemenang Pemilu 2009.
Kriteria organisasi itu penting sebagai institusi yang menjalankan begitu banyak peran, termasuk di antaranya agregasi politik, komunikasi politik, rekrutmen politik, kaderisasi kepemimpinan, pendidikan politik, dan seterusnya. Partai politik harus memiliki organisasi yang solid dan modern.
Apalagi tugas demikian harus dilaksanakan pada skala nasional yang sangat luas. Parpol dengan organisasi lemah (termasuk dalam kriteria organisasi ini adalah kualitas kader) tidak dapat diharapkan untuk menjalankan aneka peran di atas. Bahkan, ada parpol yang organisasinya begitu buruk sehingga untuk mengurus dirinya sendiri pun tak mampu.
Dalam aspek ini, PKS termasuk partai yang dianggap sukses. Organisasinya rapi dan kadernya solid. Parpol yang juga dianggap memiliki organisasi yang baik adalah Golkar. Adapun parpol yang organisasinya masih dianggap lemah adalah PDIP, PKB, dan PPP. Catatan khusus harus diberikan pada PD yang dalam Pemilu 2009 kali ini menang, namun sesungguhnya kemenangan itu bukan dilahirkan oleh organisasi yang kuat.
Kriteria sumber daya terutama menyangkut kemampuan parpol membiayai aneka
kegiatan mereka sehari-hari. Ini salah satu persoalan terbesar parpol
Indonesia sekarang ini. Kebanyakan parpol belum cukup kuat secara finansial.
Dalam konteks ini, PKS masih kurang sebab PKS kalah sumber daya dibandingkan Golkar dan PDIP yang notabene memang lebih senior. Juga, kalah sumber daya dari PD yang tokohnya sekarang presiden berkuasa. Pekerjaan rumah semua partai itu adalah bagaimana bisa mengumpulkan sumber daya yang tidak keluar dari koridor hukum dan dapat berfungsi dalam jangka panjang.
Kriteria terakhir adalah kriteria kepemimpinan. Kepemimpinan dalam parpol penting karena dua alasan. Pertama, kepemimpinan dalam parpol merupakan
"bahan baku" untuk kepemimpinan nasional. Kedua, kepemimpinan atau tepatnya
ketokohan yang kuat dalam parpol merupakan magnet suara yang bisa membuat
suara partai membesar secara signifikan. Dalam kriteria ini, PKS belum memiliki tokoh yang bisa menjadi magnet suara bagi masyarakat Indonesia sehingga bisa membuat PKS menjadi parpol terbesar di Indonesia.
Parpol yang sukses dengan tokoh yang menjadi magnet politik ada di PD dengan
SBY sebagai tokohnya dan PDIP dengan Megawati Soekarnoputri sebagai figur
utamanya. Golkar, PAN, PKB, dan PPP nasibnya mirip dengan PKS karena belum
memiliki figur yang popularitasnya seluas SBY dan Megawati. Memang, parpol
tidak boleh tergantung pada figur selamanya, namun mesin politik yang kuat
tanpa figur yang juga kuat akan sulit mengalami akselerasi kemenangan. Inilah empat pekerjaan rumah parpol-parpol Indonesia ke depan, yaitu membangun *platform* ideologi yang jelas; organisasi dan kader yang kuat; sumber daya yang memadai; dan ketokohan yang mampu menjadi magnet politik nasional.
Minggu, 26 April 2009
Jumat, 23 Januari 2009
Nostalgia
Setelah beberapa waktu yang lalu, saya mengunjungi blog seseorang (even i don't know, who she is) tapi saya merasa dibawa ke suatu tempat dimana saya merasa sangat nyaman dan merasakan sesuatu (heart feeling) yang begitu jauh entah dimana, namun saya betah didalamnya...
I finally found the answer. I could be like that because, I was hearing a song. Yes, a song what I like so much, used to be (it's about 15 years ago)
So, after it was happened.. I told to my wife. And I was so surprised, that she liked the song too!
You know, what was happened then? -> I had gone for a romantic dancing with her...
So nice.. really. We were enjoyed the song together.
Hmm.... (alhamdulillah, i'm very happy)
I finally found the answer. I could be like that because, I was hearing a song. Yes, a song what I like so much, used to be (it's about 15 years ago)
So, after it was happened.. I told to my wife. And I was so surprised, that she liked the song too!
You know, what was happened then? -> I had gone for a romantic dancing with her...
So nice.. really. We were enjoyed the song together.
Hmm.... (alhamdulillah, i'm very happy)
Jumat, 26 Desember 2008
Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah
Assalaamu'alaikum, sahabat semua..
Semoga antum-antunna semakin sholih dan bermafaat untuk masyarakat.
Selamat Tahun Baru 1430 H. Semoga tahun ini adalah tahun kemenangan untuk dakwah dan perbaikan ummat. Amiin..

My Friendster
Salam cinta,
Abu Fauzan.
Semoga antum-antunna semakin sholih dan bermafaat untuk masyarakat.
Selamat Tahun Baru 1430 H. Semoga tahun ini adalah tahun kemenangan untuk dakwah dan perbaikan ummat. Amiin..

My Friendster
Salam cinta,
Abu Fauzan.
Minggu, 07 Desember 2008
ARAFAH
Arafah. Padang luas tempat kita menghampar jiwa. Semua lebur jadi satu tanpa sekat. Semua sekat: etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah. Ihram putih yang membalut tubuh-tubuh kita menyimbolkan kesatuan. Semua kesatuan: asal usul, tujuan hidup, jalan hidup yang kita tempuh untuk mencapai tujuan itu.
Arafah itu seperti lukisan jiwa-jiwa yang digantung di dinding sejarah. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit; disatukan oleh kekuatan yang lahir kekuatan; kekuatan cinta yang lahir kekuatan iman. Tiba-tiba kita semua merasakan kerendahan hati yang tulus. Lalu jiwa kita hampar bagai permadani; silakan semua orang duduk di sana. Perbedaan-perbedaan ini, etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah seketika berubah menjadi sumber keindahan yang menghiasi langit kehidupan kita.
Cintalah rahasianya. Maka ekspansi Islam dari jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara sampai ke Eropa Barat dan Timur, bukanlah suatu catatan tentang pedang terhunus yang tak pernah berhenti berdarah. Itu justru serangan pasukan cinta yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dengan sekat tanah dan etnis: maka menyatulah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. "Akan kami perangi mereka dengan cinta," kata Hasan Al Banna.
Dalam celupan cinta jiwa-jiwa itu muncul kembali dengan kesamaan-kesamaan baru: keramahan yang tulus, kerendahan hati yang natural, kedermawanan dan kebiasaan menolong orang lain. Pergilah ke negara-negara Islam dan temuilah masyarakatnya, kamu pasti menemukan sifat-sifat itu merata di antara mereka. Itulah sifat-sifat yang lahir dari cinta.
Dan itulah yang terjadi kemudian. Bangsa-Bangsa Islam adalah rumpun ideologi yang tidak pernah bisa punah, bahkan ketika khilafah mereka runtuh dan negara-negara mereka porak-poranda. Bandingkanlah dengan imperium Romawi, atau Persia atau Uni Soviet. Bangsa-bangsa mereka pecah begitu institusi negara mereka runtuh. Nasib seperti ini rasanya juga akan dialami oleh negara-negara kosmo saat ini. Materialisme telah membangun sebuah dunia kosmo yang disatukan dan dipisahkan oleh uang.Di dunia kita saat ini, krisis ekonomi bisa dengan mudah menghancurkan sebuah bangsa, menutup riwayat sebuah negara. Seperti Uni Soviet. Walaupun tidak dapat meramalkan waktu kejadiaannya, tapi saya memiliki kepercayaan yang kuat, bahwa Amerika Serikat juga akan mengalami masa depan yang sama.
Batasan negeri kita, dan negeri mana pun, adalah ruang hati kita. Seluas apa ruang hati kita dapat menampung orang lain, seluas itulah negeri yang mungkin kita huni. Selama apa cinta dapat bertahan dalam hati kita, selama itulah umur negeri kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang rumit sebenarnya tersimpan sebuah rahasia yang sederhana: keutuhan kita sebagai bangsa seumur dengan umur cinta kita.
Anis Matta
pernah dimuat Majalah Tarbawi
Arafah itu seperti lukisan jiwa-jiwa yang digantung di dinding sejarah. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit; disatukan oleh kekuatan yang lahir kekuatan; kekuatan cinta yang lahir kekuatan iman. Tiba-tiba kita semua merasakan kerendahan hati yang tulus. Lalu jiwa kita hampar bagai permadani; silakan semua orang duduk di sana. Perbedaan-perbedaan ini, etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah seketika berubah menjadi sumber keindahan yang menghiasi langit kehidupan kita.
Cintalah rahasianya. Maka ekspansi Islam dari jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara sampai ke Eropa Barat dan Timur, bukanlah suatu catatan tentang pedang terhunus yang tak pernah berhenti berdarah. Itu justru serangan pasukan cinta yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dengan sekat tanah dan etnis: maka menyatulah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. "Akan kami perangi mereka dengan cinta," kata Hasan Al Banna.
Dalam celupan cinta jiwa-jiwa itu muncul kembali dengan kesamaan-kesamaan baru: keramahan yang tulus, kerendahan hati yang natural, kedermawanan dan kebiasaan menolong orang lain. Pergilah ke negara-negara Islam dan temuilah masyarakatnya, kamu pasti menemukan sifat-sifat itu merata di antara mereka. Itulah sifat-sifat yang lahir dari cinta.
Dan itulah yang terjadi kemudian. Bangsa-Bangsa Islam adalah rumpun ideologi yang tidak pernah bisa punah, bahkan ketika khilafah mereka runtuh dan negara-negara mereka porak-poranda. Bandingkanlah dengan imperium Romawi, atau Persia atau Uni Soviet. Bangsa-bangsa mereka pecah begitu institusi negara mereka runtuh. Nasib seperti ini rasanya juga akan dialami oleh negara-negara kosmo saat ini. Materialisme telah membangun sebuah dunia kosmo yang disatukan dan dipisahkan oleh uang.Di dunia kita saat ini, krisis ekonomi bisa dengan mudah menghancurkan sebuah bangsa, menutup riwayat sebuah negara. Seperti Uni Soviet. Walaupun tidak dapat meramalkan waktu kejadiaannya, tapi saya memiliki kepercayaan yang kuat, bahwa Amerika Serikat juga akan mengalami masa depan yang sama.
Batasan negeri kita, dan negeri mana pun, adalah ruang hati kita. Seluas apa ruang hati kita dapat menampung orang lain, seluas itulah negeri yang mungkin kita huni. Selama apa cinta dapat bertahan dalam hati kita, selama itulah umur negeri kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang rumit sebenarnya tersimpan sebuah rahasia yang sederhana: keutuhan kita sebagai bangsa seumur dengan umur cinta kita.
Anis Matta
pernah dimuat Majalah Tarbawi
Masih Tetap Partai Dakwah
Oleh Tifatul Sembiring
Sumber: Republika, 3 Des 2008, hal 6
Banyak orang mempertanyakan mengapa PKS mengklaim dirinya sebagai
partai dakwah. Bahkan ada yang mengatakan kalau PKS ingin berdakwah,
mengapa harus bikin partai? Silakan berdakwah di masjid-masjid, di
surau-surau atau di mushala-mushala. Tidak usah ikut-ikutan maju ke
panggung politik. Pemahaman ini sering dikemukakan oleh para pengamat
maupun politisi. Mereka menganggap PKS salah kaprah ketika ikut di
kancah politik.
Sebetulnya, hakikat dakwah adalah ishlah (dari bahasa Arab), artinya
perbaikan. Bila kita ingin memperbaiki kualitas ummat, kualitas
masyarakat, berarti kita telah melakukan ishlah. Dalam terminologi
lain, kata ishlah juga bermakna reformasi. How to reform this nation.
PKS yakin perbaikan itu dapat dilakukan secara gradual dengan
meminimalkan efek-efek destruktif tentunya. Jadi, sebagai pendukung
reformasi, PKS akan terus berjuang mengemban amanah reformasi dengan
langkah-langkah dakwah.
Dakwah memiliki tahapan. Pertama, memperbaiki diri sendiri, kemudian
keluarga, masyarakat, hingga memperbaiki negara. Inilah sekarang yang
sedang dilakukan PKS. Istilah kami berdakwah di level negara. PKS,
misalnya, menganggap parlemen sebagai mimbar dakwah. Kebijakan atau
keputusan yang dihasilkan parlemen harus membela rakyat dan berpihak
pada ummat. Dengan terlibat dalam proses pengambilan keputusan di
parlemen, PKS mengadvokasi dan memberikan manfaat kepada ummat Islam
dalam skala yang lebih luas.
PKS telah bergeser?
Akhir-akhir ini kerap muncul pertanyaan, apakah PKS telah bergeser
dari ideologi dan asas Islam? Apakah sudah tergoda oleh dunia, lalu
memunculkan iklan Soeharto, meninggalkan jati dirinya, melupakan
khiththah perjuangan, dan seterusnya?
Dalam hal ini saya tegaskan asas PKS tetap Islam. PKS tetap berangkat
dari ideologi Islam dengan moral dasar Islam dan tidak akan pernah
bergeser dari prinsip-prinsip tersebut. Prinsip-prinsip ini
sesungguhnya terinspirasi oleh Piagam Madinah dimana intinya
memberikan kebebasan beribadah bagi seluruh warga sesuai dengan
keyakinannya masing-masing, tidak saling mengganggu dan bersinergi
antar komponen bangsa.
Dalam kiprah PKS, ada yang disebut mabadi' dan ada pula kaifiyah.
Mabadi' adalah hal-hal yang bersifat prinsip, yang tsabit atau kokoh.
PKS memiliki AD/ART yang menjadi pedoman keorganisasian, falsafah
dasar perjuangan dan platform pembangunan, yang semua bersumber dari
ajaran Islam tentang keadilan. Itulah mabadi' PKS. Kaifiyah adalah
sesuatu yang bersifat operasional. Untuk kasus iklan PKS yang
diantaranya menampilkan gambar Soeharto, sebenarnya DPP PKS belum
pernah memutuskan atau mengusulkan beliau sebagai pahlawan. Pada sisi
lain, kami memahami pemberian gelar pahlawan nasional adalah domain
pemerintah, bukan PKS.
Iklan yang sempat ditayangkan dalam menyambut hari pahlawan selama
tiga hari itu mendapat kritikan dan tanggapan sangat luas dari
masyarakat dan pengamat. Sebenarnya iklan tersebut tidak bermaksud
memahlawankan Soeharto. Desain awalnya ketika muncul gambar Bung Karno
dan Pak Harto diikuti dengan kalimat: "Mereka sudah lakukan apa yang
mereka bisa". Lalu muncul gambar KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan
diikuti kalimat:"Mereka sudah memberikan apa yang mereka punya", lalu
muncul gambar selanjutnya dan seterusnya. Inilah konsep storyboard
iklan yang diperlihatkan kepada DPP.
Ungkapan yang menyatakan bahwa Soekarno dan Soeharto sudah melakukan
apa yang mereka bisa adalah ungkapan yang bersifat umum dan netral.
Soal benat atau salah tindakan mereka kita serahkan penilaiannya
kepada masyarakat. Namun, pada pengolahan iklan selanjutnya, kata guru
bangsa dimunculkan terlebih dahulu dan di sinilah letak
kontroversinya. Kami menganggap sangat wajar reaksi sebagian
masyarakat terhadap penayangan iklan yang berdurasi hanya 30 detik itu
serta masa tayang yang hanya selama tiga hari.
Hasil kreasi Tim Pemenangan Pemilu serta konsultan iklan dalam rangka
memperingati Hari Pahlawan tersebut membuat banyak mata terbelalak.
Maka tudingan PKS diduga menerima aliran dana dari Cendana dan
berbagai spekulasi pun merebak, juga fitnah-fitnah lainnya.
Secara mabadi' atau prinsip, tidak ada yang berubah dari PKS. Tidak
ada keputusan yang menyatakan Soeharto adalah pahlawan. Tidak ada
perubahan khitthah. Namun, secara kaifiyah, mungkin saja ada yang
keliru. Tentunya, merupakan kewajiban kami mengoreksi dan sebagai
bahan pertimbangan sebelum penayangan iklan-iklan berikutnya di media
massa. PKS akan tetap berjuang untuk bersih, peduli, dan profesional,
sebagaimana hal tersebut menjadi salah satu tag line kami.
Dalam hal acara rekonsiliasi nasional, ini semacam proposal untuk cut
off, memutuskan dendam sejarah agar pergantian rezim tidak diikuti
oleh cercaan dan caci maki antarpengikutnya. Betapa energi bangsa ini
akan tersia-sia karenanya. Padahal banyak permasalahan mendasar masih
menghambat laju pembangunan bangsa kita.
Banyak pengamat mengatakan, pada 2009 ini the end of a political
generation, akhir dari suatu generasi politik. Jadi, tahun 2014 nanti
akan muncul pendatang baru di panggung politik dengan mimpi baru
mereka dan juga obsesi-obsesi yang baru pula. Maka, kami memandang
jangan sampai kaki kita ditarik-tarik terus ke belakang. Mari menatap
ke depan, membangun dan memajukan bangsa, menghilangkan segala bentuk
dendam sejarah. Ini agar ada kekuatan saling percaya di antara kita
dan melangkah tanpa curiga-mencurigai.
Untuk inilah digagas rekonsiliasi dan perlu dicatat bahwa rekonsiliasi
ini tidak bermaksud akan adanya pengampunan terhadap pelanggar hukum.
Yang bersalah tetap harus diproses menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku, tanpa pandang bulu.
Demikian pula denga penghargaan terhadap tokoh-tokoh muda atau para
pemimpin "balita", dimana hal ini telah kami canangkan sejak di
mukernas di Makassar. Ini adalah semacam stimulasi agar bermunculan
sosok-sosok segar dan berkualitas dari lapisan anak muda di negeri
ini. Pada sisi lain, kita melihat seluruh calon presiden yang telah
muncul rata-rata telah berusia 60 tahun ke atas. Sebagai proposal bagi
Indonesia yang lebih bernas, tentu sah-sah saja kami mengusulkan tokoh
muda.
Kriteria 106 pemimpin "balita" ini pun masih sangat sederhana.
Pertama, mereka memiliki track record moral yang baik, belum
terkontaminasi perilaku KKN. Memiliki kompetensi dan kualitas
kepemimpinan dan telah muncul di publik serta media massa. Mereka
aktif di berbagai bidang, apakah di LSM, kampus, pekerja sosial,
budayawan, pengusaha, dan sebagainya. Kami ingin mengatakan, saat ini
setidaknya ada 106 pemimpin muda yang siap membuat bangsa ini maju dan
bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain.
Inilah penjelasan kami terhadap beberapa kritik yang dialamatkan
kepada PKS. Masukan-masukan tersebut sungguh kami hargai dan
merefleksikan betapa eratnya saling memiliki di antara kita, anak
bangsa. Secara substansi, kritikan-kritikan tersebut menyangkut
kaifiyah, dimana hal tersebut sangat dipengaruhi oleh dinamika
kreativitas para kader dan simpatisan. Wilayah ideologis dan asas kami
ialah Islam, tetap kokoh.
Wallohu a'lam bish-showab
Sumber: Republika, 3 Des 2008, hal 6
Banyak orang mempertanyakan mengapa PKS mengklaim dirinya sebagai
partai dakwah. Bahkan ada yang mengatakan kalau PKS ingin berdakwah,
mengapa harus bikin partai? Silakan berdakwah di masjid-masjid, di
surau-surau atau di mushala-mushala. Tidak usah ikut-ikutan maju ke
panggung politik. Pemahaman ini sering dikemukakan oleh para pengamat
maupun politisi. Mereka menganggap PKS salah kaprah ketika ikut di
kancah politik.
Sebetulnya, hakikat dakwah adalah ishlah (dari bahasa Arab), artinya
perbaikan. Bila kita ingin memperbaiki kualitas ummat, kualitas
masyarakat, berarti kita telah melakukan ishlah. Dalam terminologi
lain, kata ishlah juga bermakna reformasi. How to reform this nation.
PKS yakin perbaikan itu dapat dilakukan secara gradual dengan
meminimalkan efek-efek destruktif tentunya. Jadi, sebagai pendukung
reformasi, PKS akan terus berjuang mengemban amanah reformasi dengan
langkah-langkah dakwah.
Dakwah memiliki tahapan. Pertama, memperbaiki diri sendiri, kemudian
keluarga, masyarakat, hingga memperbaiki negara. Inilah sekarang yang
sedang dilakukan PKS. Istilah kami berdakwah di level negara. PKS,
misalnya, menganggap parlemen sebagai mimbar dakwah. Kebijakan atau
keputusan yang dihasilkan parlemen harus membela rakyat dan berpihak
pada ummat. Dengan terlibat dalam proses pengambilan keputusan di
parlemen, PKS mengadvokasi dan memberikan manfaat kepada ummat Islam
dalam skala yang lebih luas.
PKS telah bergeser?
Akhir-akhir ini kerap muncul pertanyaan, apakah PKS telah bergeser
dari ideologi dan asas Islam? Apakah sudah tergoda oleh dunia, lalu
memunculkan iklan Soeharto, meninggalkan jati dirinya, melupakan
khiththah perjuangan, dan seterusnya?
Dalam hal ini saya tegaskan asas PKS tetap Islam. PKS tetap berangkat
dari ideologi Islam dengan moral dasar Islam dan tidak akan pernah
bergeser dari prinsip-prinsip tersebut. Prinsip-prinsip ini
sesungguhnya terinspirasi oleh Piagam Madinah dimana intinya
memberikan kebebasan beribadah bagi seluruh warga sesuai dengan
keyakinannya masing-masing, tidak saling mengganggu dan bersinergi
antar komponen bangsa.
Dalam kiprah PKS, ada yang disebut mabadi' dan ada pula kaifiyah.
Mabadi' adalah hal-hal yang bersifat prinsip, yang tsabit atau kokoh.
PKS memiliki AD/ART yang menjadi pedoman keorganisasian, falsafah
dasar perjuangan dan platform pembangunan, yang semua bersumber dari
ajaran Islam tentang keadilan. Itulah mabadi' PKS. Kaifiyah adalah
sesuatu yang bersifat operasional. Untuk kasus iklan PKS yang
diantaranya menampilkan gambar Soeharto, sebenarnya DPP PKS belum
pernah memutuskan atau mengusulkan beliau sebagai pahlawan. Pada sisi
lain, kami memahami pemberian gelar pahlawan nasional adalah domain
pemerintah, bukan PKS.
Iklan yang sempat ditayangkan dalam menyambut hari pahlawan selama
tiga hari itu mendapat kritikan dan tanggapan sangat luas dari
masyarakat dan pengamat. Sebenarnya iklan tersebut tidak bermaksud
memahlawankan Soeharto. Desain awalnya ketika muncul gambar Bung Karno
dan Pak Harto diikuti dengan kalimat: "Mereka sudah lakukan apa yang
mereka bisa". Lalu muncul gambar KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan
diikuti kalimat:"Mereka sudah memberikan apa yang mereka punya", lalu
muncul gambar selanjutnya dan seterusnya. Inilah konsep storyboard
iklan yang diperlihatkan kepada DPP.
Ungkapan yang menyatakan bahwa Soekarno dan Soeharto sudah melakukan
apa yang mereka bisa adalah ungkapan yang bersifat umum dan netral.
Soal benat atau salah tindakan mereka kita serahkan penilaiannya
kepada masyarakat. Namun, pada pengolahan iklan selanjutnya, kata guru
bangsa dimunculkan terlebih dahulu dan di sinilah letak
kontroversinya. Kami menganggap sangat wajar reaksi sebagian
masyarakat terhadap penayangan iklan yang berdurasi hanya 30 detik itu
serta masa tayang yang hanya selama tiga hari.
Hasil kreasi Tim Pemenangan Pemilu serta konsultan iklan dalam rangka
memperingati Hari Pahlawan tersebut membuat banyak mata terbelalak.
Maka tudingan PKS diduga menerima aliran dana dari Cendana dan
berbagai spekulasi pun merebak, juga fitnah-fitnah lainnya.
Secara mabadi' atau prinsip, tidak ada yang berubah dari PKS. Tidak
ada keputusan yang menyatakan Soeharto adalah pahlawan. Tidak ada
perubahan khitthah. Namun, secara kaifiyah, mungkin saja ada yang
keliru. Tentunya, merupakan kewajiban kami mengoreksi dan sebagai
bahan pertimbangan sebelum penayangan iklan-iklan berikutnya di media
massa. PKS akan tetap berjuang untuk bersih, peduli, dan profesional,
sebagaimana hal tersebut menjadi salah satu tag line kami.
Dalam hal acara rekonsiliasi nasional, ini semacam proposal untuk cut
off, memutuskan dendam sejarah agar pergantian rezim tidak diikuti
oleh cercaan dan caci maki antarpengikutnya. Betapa energi bangsa ini
akan tersia-sia karenanya. Padahal banyak permasalahan mendasar masih
menghambat laju pembangunan bangsa kita.
Banyak pengamat mengatakan, pada 2009 ini the end of a political
generation, akhir dari suatu generasi politik. Jadi, tahun 2014 nanti
akan muncul pendatang baru di panggung politik dengan mimpi baru
mereka dan juga obsesi-obsesi yang baru pula. Maka, kami memandang
jangan sampai kaki kita ditarik-tarik terus ke belakang. Mari menatap
ke depan, membangun dan memajukan bangsa, menghilangkan segala bentuk
dendam sejarah. Ini agar ada kekuatan saling percaya di antara kita
dan melangkah tanpa curiga-mencurigai.
Untuk inilah digagas rekonsiliasi dan perlu dicatat bahwa rekonsiliasi
ini tidak bermaksud akan adanya pengampunan terhadap pelanggar hukum.
Yang bersalah tetap harus diproses menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku, tanpa pandang bulu.
Demikian pula denga penghargaan terhadap tokoh-tokoh muda atau para
pemimpin "balita", dimana hal ini telah kami canangkan sejak di
mukernas di Makassar. Ini adalah semacam stimulasi agar bermunculan
sosok-sosok segar dan berkualitas dari lapisan anak muda di negeri
ini. Pada sisi lain, kita melihat seluruh calon presiden yang telah
muncul rata-rata telah berusia 60 tahun ke atas. Sebagai proposal bagi
Indonesia yang lebih bernas, tentu sah-sah saja kami mengusulkan tokoh
muda.
Kriteria 106 pemimpin "balita" ini pun masih sangat sederhana.
Pertama, mereka memiliki track record moral yang baik, belum
terkontaminasi perilaku KKN. Memiliki kompetensi dan kualitas
kepemimpinan dan telah muncul di publik serta media massa. Mereka
aktif di berbagai bidang, apakah di LSM, kampus, pekerja sosial,
budayawan, pengusaha, dan sebagainya. Kami ingin mengatakan, saat ini
setidaknya ada 106 pemimpin muda yang siap membuat bangsa ini maju dan
bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain.
Inilah penjelasan kami terhadap beberapa kritik yang dialamatkan
kepada PKS. Masukan-masukan tersebut sungguh kami hargai dan
merefleksikan betapa eratnya saling memiliki di antara kita, anak
bangsa. Secara substansi, kritikan-kritikan tersebut menyangkut
kaifiyah, dimana hal tersebut sangat dipengaruhi oleh dinamika
kreativitas para kader dan simpatisan. Wilayah ideologis dan asas kami
ialah Islam, tetap kokoh.
Wallohu a'lam bish-showab
Label:
Dakwah,
Iklan Soeharto,
Pantang Menyerah,
Partai,
PKS
Rabu, 26 November 2008
Mari Jaga Keutuhan dan Kesatuan Kita
"Qiyadatu mukhlishoh wa jundiyatu muthi'ah"
(Pimpinan yang ikhlas dan kader yang loyal)
Kata-kata di atas merupakan salah satu jargon lahir dalam ranah tarbawiyah, menunjukkan salah satu bentuk pola hubungan timbal balik antara para qiyadah dengan para junud. Dalam skala yang paling kecil menunjukkan pola hubungan antara para murobbi dan para mutarobbi.
Keikhlasan qiyadah-lah yang akan menumbuhkan adanya keta'atan dari para junud. Keikhlasan yang tidak hanya keluar dalam tataran verbal semata tapi terlihat dalam tataran 'amal. Dalam cara pandang yang lain, contohnya, keikhlasan tersebut nuansanya akan bisa juga terlihat dalam cara berbicara, cara berpakaian, cara tersenyum bahkan dalam cara memberikan instruksi/arahan, nuansa keikhlasan kentara terasa. Dengan keikhlasan seperti inilah maka para junud merasakan adanya kenyamanan berada dalam arahan dan bimbingan para qo'id tersebut. Kenyamanan inilah yang nantinya menghasilkan sikap keta'atan dari para junud. Dalam kondisi inilah dengan sendirinya sikap tsiqoh akan muncul.
Namun jangan dilupakan pula, sebaik-baiknya taujih adalah taujih robbani. Dengan sendirinya unsur utama tersebut merupakan katalisator dalam pembentukan sikap tsiqoh ini.
Dalam perspektif organisasi, tsiqoh bil jama'ah menduduki tempat yang utama, sekaligus merupakan parameter loyalitas seorang junud. Tsiqoh bil qiyadah merupakan personifikasi sikap tsiqoh bil jama'ah, inilah pemahaman yang selayaknya hadir dalam setiap junud.
…jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya…" (QS.Al Hujurat;6)
Rasulullah SAW marah besar kepada Harits bin Dhirar, ketika Harits bin Dhirar datang menghadap untuk melakukan klarifikasi mengapa utusan Rasulullah SAW tidak kunjung datang untuk mengambil zakat yang terkumpul.
Ternyata sang utusan, Walid bin Uqbah, memang tidak melaksanakan tugasnya dengan amanah, dia memang tidak pernah sampai ke tempatnya Harits bin Dhirar, sebaliknya malahan dia kembali lagi ke Madinah dan sewaktu melaporkan hasil tugasnya kehadapan Rasul, Walid bin Uqbah mengabarkan bahwa Harits bin Dhirar tidak mau memberikan zakat yang telah dijanjikan dan malah mau membunuhnya. Inilah yang menjadi sebab kemarahan Rasulullah SAW kepada Harits bin Dhirar.
Harits bin Dhirar tabayyun langsung ke hadapan Rasul, dengan mengatakan "Wahai Rasulullah, kaum kami telah masuk kedalam Islam dan telah mengumpulkan zakat sebagaimana yang telah engkau perintahkan. Namun sampai dengan waktu yang ditentukan ternyata utusan-mu tidak pernah tiba ke tempat kami untuk mengambil zakat tersebut. Kami takut karena kemarahan Allah dan Rasul-nya yang menyebabkan tidak adanya utusan yang datang ke tempat kami. Karena itulah saya dan pembesar-pembesar kami datang menghadapmu. "
Dan turunlah Al-Hujurat ayat 6 di atas tersebut.
Demikianlah Walid bin Uqbah, seorang sahabat dan kader dakwah pada masa Rasulullah SAW, yang telah mendapatkan kemuliaan dengan menjadi salah seorang utusan Rasulullah SAW, ternyata tidak bisa menunaikan amanah dengan baik, malah melaporkan informasi yang menyesatkan bagi Rasulullah SAW berkaitan dengan Harits bin Dhirar. Allah dan Rasul-Nya yang akan menentukan bagaimana bentuk sanksi yang akan menimpanya.
Harits bin Dhirar, sosok kader dakwah yang lainnya, begitu dia merasakan adanya ketidaksesuaian antara janji yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dengan kenyataan yang terjadi maka sikap yang diambilnya adalah pertama melakukan instropeksi, bila ada perilaku dia dan kaumnya yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya murka sehingga tidak mengirim utusan sebagai salah satu bentuk sanksi yang diberikan, kedua, kemudian melakukan tabayyun langsung ke hadapan Rasulullah SAW dengan membawa para pembesar di kaumnya untuk menjelaskan keadaan yang sesungguhnya. (Lihat selengkapnya dalam tafsir Ibnu Katsir berkenaan dengan ayat tsb di atas).
Pernah ada satu masa dimana saat itu, informasi-informasi yang berkaitan dengan issue-issue kejama'ahan belum begitu semeluas sekarang ini. Saat itu informasi seputar kejama'ahan hanya berkutat dalam area yang terbatas, dan hanya dinikmati juga oleh orang-orang yang terbatas yaitu para kader dakwah itu sendiri, hal ini merupakan konsekuensi yang wajar karena dakwah saat itu masih mempersiapkan diri, menata diri untuk siap-siap memasuki pintu dakwah berikutnya yang sangat lebar yaitu dakwah kepada masyarakat dalam era keterbukaan (jahriyatu jamahiriyyah da'wah).
Dalam hal pengelolaan informasi, struktur saluran informasi yang tercipta saat itu bisa menghasilkan sterilisasi informasi dari unsur-unsur pengotor. Sehingga informasi kejama'ahan yang beredar bersih, terang dan shohih. Pola khas-nya adalah bottom up atau top down (vertical).
Karena tuntutan keniscayaan dakwah inilah, maka akhirnya tarbiyah memasuki masa keterbukaannya. Tarbiyah dalam era kekinian sebagai konsekuensinya menghadapi kenyataan bahwa betapa informasi, isu-isu seputar tarbiyah dan kejama'ahan begitu banyak berserakan dimana-mana. Saking berserakannya, maka menjadikan kita begitu mudah untuk mengambilnya. Saking berserakannya, maka timbul kesamaran mana informasi yang wadhih dan shohih, dan mana informasi yang menyesatkan. Konsumennya pun menjadi tidak semata-mata para kader saja bahkan masyarakat luas pun bisa menikmatinya. Informasi itu bisa datang dari samping kiri atau kanan kita. Tanpa kita mencaripun, tanpa menyengajapun, kita akan menemuinya.
Bila masa itu telah tiba, dimana para kader kadang mudah terprovokasi dengan pelbagai informasi yang diterima dari kanan atau kirinya. Tanpa menyadari (karena kemasan yang begitu baik, begitu ngikhwah, begitu *ks) bahwa diantara sekian informasi yang diterima itu boleh jadi ada yang sebagian dilontarkan oleh pihak yang membenci dakwah ini, memusuhi, bercita-cita agar dakwah ini hancur. Maka lunturlah ketsiqohan, terkikislah keta'atan. Persis seperti apa yang Allah gambarkan dalam ayat-Nya di atas.
Ikhtisar, Ingatlah kita semua adalah junud dalam dakwah ini, inilah saatnya kita menunjukkan sikap dan perilaku kita sebagai kader sejati. Kewajiban kitalah untuk mengawal jalannya kereta dakwah ini, karenanya kita harus tsiqoh kepada dakwah ini, tsiqoh kepada jama'ah ini, sikap kita :
1.Tolaklah lebih dulu, berilah pembelaan dakwah, bila menemui adanya informasi yang 'miring' , jangan terburu atau terpengaruh untuk ikut-ikutan membenarkan.
2.Ruju' kepada murobbi, tanyakanlah hal ihwal permasalahan ini kepada murobbi, bila ybs tidak bisa memberikan penjelasan, pasti ybs akan menanyakannya pula kepada murobbinya. Inilah salah satu saluran informasi yg bersih itu.
3.Simaklah bayanat yang di keluarkan oleh struktur, namun perlu diingat tidak setiap permasalahan memerlukan bayanat. Ada skala prioritas. Inilah saluran informasi bersih lainnya.
Wallahu a'lam.
(Pimpinan yang ikhlas dan kader yang loyal)
Kata-kata di atas merupakan salah satu jargon lahir dalam ranah tarbawiyah, menunjukkan salah satu bentuk pola hubungan timbal balik antara para qiyadah dengan para junud. Dalam skala yang paling kecil menunjukkan pola hubungan antara para murobbi dan para mutarobbi.
Keikhlasan qiyadah-lah yang akan menumbuhkan adanya keta'atan dari para junud. Keikhlasan yang tidak hanya keluar dalam tataran verbal semata tapi terlihat dalam tataran 'amal. Dalam cara pandang yang lain, contohnya, keikhlasan tersebut nuansanya akan bisa juga terlihat dalam cara berbicara, cara berpakaian, cara tersenyum bahkan dalam cara memberikan instruksi/arahan, nuansa keikhlasan kentara terasa. Dengan keikhlasan seperti inilah maka para junud merasakan adanya kenyamanan berada dalam arahan dan bimbingan para qo'id tersebut. Kenyamanan inilah yang nantinya menghasilkan sikap keta'atan dari para junud. Dalam kondisi inilah dengan sendirinya sikap tsiqoh akan muncul.
Namun jangan dilupakan pula, sebaik-baiknya taujih adalah taujih robbani. Dengan sendirinya unsur utama tersebut merupakan katalisator dalam pembentukan sikap tsiqoh ini.
Dalam perspektif organisasi, tsiqoh bil jama'ah menduduki tempat yang utama, sekaligus merupakan parameter loyalitas seorang junud. Tsiqoh bil qiyadah merupakan personifikasi sikap tsiqoh bil jama'ah, inilah pemahaman yang selayaknya hadir dalam setiap junud.
…jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya…" (QS.Al Hujurat;6)
Rasulullah SAW marah besar kepada Harits bin Dhirar, ketika Harits bin Dhirar datang menghadap untuk melakukan klarifikasi mengapa utusan Rasulullah SAW tidak kunjung datang untuk mengambil zakat yang terkumpul.
Ternyata sang utusan, Walid bin Uqbah, memang tidak melaksanakan tugasnya dengan amanah, dia memang tidak pernah sampai ke tempatnya Harits bin Dhirar, sebaliknya malahan dia kembali lagi ke Madinah dan sewaktu melaporkan hasil tugasnya kehadapan Rasul, Walid bin Uqbah mengabarkan bahwa Harits bin Dhirar tidak mau memberikan zakat yang telah dijanjikan dan malah mau membunuhnya. Inilah yang menjadi sebab kemarahan Rasulullah SAW kepada Harits bin Dhirar.
Harits bin Dhirar tabayyun langsung ke hadapan Rasul, dengan mengatakan "Wahai Rasulullah, kaum kami telah masuk kedalam Islam dan telah mengumpulkan zakat sebagaimana yang telah engkau perintahkan. Namun sampai dengan waktu yang ditentukan ternyata utusan-mu tidak pernah tiba ke tempat kami untuk mengambil zakat tersebut. Kami takut karena kemarahan Allah dan Rasul-nya yang menyebabkan tidak adanya utusan yang datang ke tempat kami. Karena itulah saya dan pembesar-pembesar kami datang menghadapmu. "
Dan turunlah Al-Hujurat ayat 6 di atas tersebut.
Demikianlah Walid bin Uqbah, seorang sahabat dan kader dakwah pada masa Rasulullah SAW, yang telah mendapatkan kemuliaan dengan menjadi salah seorang utusan Rasulullah SAW, ternyata tidak bisa menunaikan amanah dengan baik, malah melaporkan informasi yang menyesatkan bagi Rasulullah SAW berkaitan dengan Harits bin Dhirar. Allah dan Rasul-Nya yang akan menentukan bagaimana bentuk sanksi yang akan menimpanya.
Harits bin Dhirar, sosok kader dakwah yang lainnya, begitu dia merasakan adanya ketidaksesuaian antara janji yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dengan kenyataan yang terjadi maka sikap yang diambilnya adalah pertama melakukan instropeksi, bila ada perilaku dia dan kaumnya yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya murka sehingga tidak mengirim utusan sebagai salah satu bentuk sanksi yang diberikan, kedua, kemudian melakukan tabayyun langsung ke hadapan Rasulullah SAW dengan membawa para pembesar di kaumnya untuk menjelaskan keadaan yang sesungguhnya. (Lihat selengkapnya dalam tafsir Ibnu Katsir berkenaan dengan ayat tsb di atas).
Pernah ada satu masa dimana saat itu, informasi-informasi yang berkaitan dengan issue-issue kejama'ahan belum begitu semeluas sekarang ini. Saat itu informasi seputar kejama'ahan hanya berkutat dalam area yang terbatas, dan hanya dinikmati juga oleh orang-orang yang terbatas yaitu para kader dakwah itu sendiri, hal ini merupakan konsekuensi yang wajar karena dakwah saat itu masih mempersiapkan diri, menata diri untuk siap-siap memasuki pintu dakwah berikutnya yang sangat lebar yaitu dakwah kepada masyarakat dalam era keterbukaan (jahriyatu jamahiriyyah da'wah).
Dalam hal pengelolaan informasi, struktur saluran informasi yang tercipta saat itu bisa menghasilkan sterilisasi informasi dari unsur-unsur pengotor. Sehingga informasi kejama'ahan yang beredar bersih, terang dan shohih. Pola khas-nya adalah bottom up atau top down (vertical).
Karena tuntutan keniscayaan dakwah inilah, maka akhirnya tarbiyah memasuki masa keterbukaannya. Tarbiyah dalam era kekinian sebagai konsekuensinya menghadapi kenyataan bahwa betapa informasi, isu-isu seputar tarbiyah dan kejama'ahan begitu banyak berserakan dimana-mana. Saking berserakannya, maka menjadikan kita begitu mudah untuk mengambilnya. Saking berserakannya, maka timbul kesamaran mana informasi yang wadhih dan shohih, dan mana informasi yang menyesatkan. Konsumennya pun menjadi tidak semata-mata para kader saja bahkan masyarakat luas pun bisa menikmatinya. Informasi itu bisa datang dari samping kiri atau kanan kita. Tanpa kita mencaripun, tanpa menyengajapun, kita akan menemuinya.
Bila masa itu telah tiba, dimana para kader kadang mudah terprovokasi dengan pelbagai informasi yang diterima dari kanan atau kirinya. Tanpa menyadari (karena kemasan yang begitu baik, begitu ngikhwah, begitu *ks) bahwa diantara sekian informasi yang diterima itu boleh jadi ada yang sebagian dilontarkan oleh pihak yang membenci dakwah ini, memusuhi, bercita-cita agar dakwah ini hancur. Maka lunturlah ketsiqohan, terkikislah keta'atan. Persis seperti apa yang Allah gambarkan dalam ayat-Nya di atas.
Ikhtisar, Ingatlah kita semua adalah junud dalam dakwah ini, inilah saatnya kita menunjukkan sikap dan perilaku kita sebagai kader sejati. Kewajiban kitalah untuk mengawal jalannya kereta dakwah ini, karenanya kita harus tsiqoh kepada dakwah ini, tsiqoh kepada jama'ah ini, sikap kita :
1.Tolaklah lebih dulu, berilah pembelaan dakwah, bila menemui adanya informasi yang 'miring' , jangan terburu atau terpengaruh untuk ikut-ikutan membenarkan.
2.Ruju' kepada murobbi, tanyakanlah hal ihwal permasalahan ini kepada murobbi, bila ybs tidak bisa memberikan penjelasan, pasti ybs akan menanyakannya pula kepada murobbinya. Inilah salah satu saluran informasi yg bersih itu.
3.Simaklah bayanat yang di keluarkan oleh struktur, namun perlu diingat tidak setiap permasalahan memerlukan bayanat. Ada skala prioritas. Inilah saluran informasi bersih lainnya.
Wallahu a'lam.
Berharap Syurga-Mu
Memang saya tak setampan Nabi Yusuf alaihi salam, yang pesonanya
membuat Zulaikha tergila-gila kepadanya dan belasan wanita cantik
lainnya rela mengiris tangannya tanpa sadar lantaran tersihir keelokan
wajah putra Ya'kub itu. Ketampanan Yusuf bukan semata fisik, melainkan
cahaya di hatinya yang memancarkan kemuliaan. Bandingkan dengan diri
ini, tak seujung kelingking pun ketampanan saya bisa menyaingi Nabi
mulia itu.
Saya pun tak sesabar Nabi Ibrahim alaihi salam, berdakwah hingga
usianya lebih seabad namun hanya sedikit pengikutnya. Yang bersabar
hingga hari tuanya untuk bisa menimang putra tercinta Ismail. Coba
lihat diri ini, sering tergesa-gesa tak sabaran
Sosok ini pun tak setaat Ismail putra Ibrahim, yang ikhlas menjalankan
perintah Allah meskipun harus disembelih oleh ayahnya sendiri. Bahkan
Ismail tak bergeming saat setan menggodanya. Hmm, mudah sekali rasanya
setan-setan menggoda diri ini. Mungkin karena saya belum benar-benar
taat kepada-Nya.
Diri ini jelas-jelas tak setabah Nabi Ayub alaihi salam dalam
menjalani cobaan dari Allah. Ayub yang bertahun-tahun diuji Allah
dengan penyakit, tak sedikit pun mengeluh. Justru sebaliknya, ia
merasa ujian itu adalah cara Allah mendekatinya. Sedangkan saya, baru
kena flu saja sudah uring-uringan, bagaimana diberi penyakit yang
lebih parah? Bisa-bisa jadi alasan untuk malas beribadah.
Saya juga tak sehebat Nabi Daud alaihi salam, yang meski bertubuh
kecil sangat pemberani melawan Raja Jalut. Begitupun Nabi Musa alaihi
salam yang tak gentar berhadapan dengan penguasa paling lalim
sepanjang masa, Firaun. Ia berani mengungkapkan kebenaran dengan nyawa
taruhannya. Duh, jika saya berada pada posisi seperti itu, sanggupkah?
Bahkan menegur sahabat yang berbuat salah pun terasa berat lidah ini
mencobanya. Ironisnya, saya sering bersembunyi, pura-pura buta setiap
kali kemungkaran berlaku di depan mata ini.
Hati ini tak setegar Nabi Nuh alaihi salam yang tetap tersenyum
mendapati ejekan dari kaumnya, termasuk isteri dan anaknya sendiri.
Bahkan ketika air bah datang, Nuh tetap mengajak kaum yang sebelumnya
tak henti mengejeknya sebagai orang gila. Andaikan saya yang diejek,
emosi lah yang didahulukan. Kalau perlu saya menantang siapapun
penghina itu untuk berkelahi, saling menumpahkan darah. Saya mudah
marah, gampang tersulut emosinya, mudah terprovokasi, ah jauhlah dari
sifat Nabi Nuh.
Akal pikiran ini tak secerdas Nabi Harun alaihi salam, yang karena
kecerdasannya ia diperintah Allah menemani Musa menghadapi Firaun
sekaligus menghadapi para pengikutnya. Kejernihan pikirannya,
menjadikan ia teramat mudah mendapat hikmah dari Allah. Saya
benar-benar iri kepada Nabi Harun yang tak pernah berhenti belajar.
Berbeda dengan saya yang terkadang sudah merasa cukup pintar, sering
berpikir bahwa diri ini sarat ilmu pengetahuan.
Saya benar-benar tak sebijak Nabi Sulaiman alaihi salam, dalam segala
hal. Ia yang mampu mendengar suara semut yang ketakutan akan derap
pasukan Sulaiman, bahkan sangat kasih terhadap makhluk yang sangat
kecil itu. Karena kebijaksanaannya itulah, ia dicintai oleh segenap
makhluk di bumi, dari bangsa manusia hingga jin, dari hewan di darat,
udara sampai di dalam lautan. Sulit rasanya saya sekadar mencoba
berlaku bijaksana dan adil. Saya masih egois, melihat untung rugi
dalam berbuat, mengedepankan siapa yang dekat dengan saya dan siapa
yang saya suka, bukan siapa yang benar dan berbuat kebaikan.
Nabi Isa alaihi salam mengajarkan tentang kelembutan hati. Tentang
berbagi, membantu sesama, menolong orang tanpa pamrih, meringankan
beban kaum dhuafa, menyediakan tangannya untuk orang-orang yang
kesusahan, dan mengobati yang sakit. Hatinya selalu menangis melihat
orang-orang yang menderita, dirinya selalu berada di sekeliling kaum
dhuafa. Sedangkan saya, berkali-kali menyaksikan fenomena kemiskinan,
kesusahan, penderitaan di berbagai tempat, tetap saja hati ini sekeras
batu,.Tak gampang menangis jika bukan diri ini sendiri yang mengalami
kesusahan.
Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad Sallallaahu alaihi wassallaam?
Sungguh, beliaulah teladan seluruh manusia. Tentang cinta, kasih
sayang kepada sesama, urusan rumah tangga, kelembutan sikap, kemuliaan
akhlak, tutur kata, persahabatan, persaudaraan, kepemimpinan,
berwirausaha, seluruhnya sempurna. Tak cukup jutaan lembar kertas
untuk menuliskan keindahan pribadinya, diperlukan samudera tinta guna
melukiskan kemuliaan akhlaknya.
Tetapi saya? Tak berani menyebut satu saja keunggulan pribadi diri
ini. Sebab, satu terbilang, maka seratus keburukan segera terucap.
Andaikan saya setampan Yusuf, mungkin saya akan sombong dan tak
bersyukur. Misalkan saya sepemberani Daud, belum tentu digunakan untuk
membela kebenaran. Adapun saya pernah membantu seseorang, pamrih,
ujub, riya pun mengiringi perbuatan itu.
Jangankan untuk meniru sifat para Nabi dan Rasul, mendekatinya pun tak
mungkin. Jangankan menyamai pribadi mereka, mengikuti jejak para
sahabatnya pun tak sanggup. Berkaca pada manusia-manusia pilihan-Mu ya
Rabb, saya malu, teramat malu.
Jika demikian adanya, di pintu mana saya boleh mengetuk surga-Mu?
ditulis oleh:
Sahabatku, Bayu Gautama.
membuat Zulaikha tergila-gila kepadanya dan belasan wanita cantik
lainnya rela mengiris tangannya tanpa sadar lantaran tersihir keelokan
wajah putra Ya'kub itu. Ketampanan Yusuf bukan semata fisik, melainkan
cahaya di hatinya yang memancarkan kemuliaan. Bandingkan dengan diri
ini, tak seujung kelingking pun ketampanan saya bisa menyaingi Nabi
mulia itu.
Saya pun tak sesabar Nabi Ibrahim alaihi salam, berdakwah hingga
usianya lebih seabad namun hanya sedikit pengikutnya. Yang bersabar
hingga hari tuanya untuk bisa menimang putra tercinta Ismail. Coba
lihat diri ini, sering tergesa-gesa tak sabaran
Sosok ini pun tak setaat Ismail putra Ibrahim, yang ikhlas menjalankan
perintah Allah meskipun harus disembelih oleh ayahnya sendiri. Bahkan
Ismail tak bergeming saat setan menggodanya. Hmm, mudah sekali rasanya
setan-setan menggoda diri ini. Mungkin karena saya belum benar-benar
taat kepada-Nya.
Diri ini jelas-jelas tak setabah Nabi Ayub alaihi salam dalam
menjalani cobaan dari Allah. Ayub yang bertahun-tahun diuji Allah
dengan penyakit, tak sedikit pun mengeluh. Justru sebaliknya, ia
merasa ujian itu adalah cara Allah mendekatinya. Sedangkan saya, baru
kena flu saja sudah uring-uringan, bagaimana diberi penyakit yang
lebih parah? Bisa-bisa jadi alasan untuk malas beribadah.
Saya juga tak sehebat Nabi Daud alaihi salam, yang meski bertubuh
kecil sangat pemberani melawan Raja Jalut. Begitupun Nabi Musa alaihi
salam yang tak gentar berhadapan dengan penguasa paling lalim
sepanjang masa, Firaun. Ia berani mengungkapkan kebenaran dengan nyawa
taruhannya. Duh, jika saya berada pada posisi seperti itu, sanggupkah?
Bahkan menegur sahabat yang berbuat salah pun terasa berat lidah ini
mencobanya. Ironisnya, saya sering bersembunyi, pura-pura buta setiap
kali kemungkaran berlaku di depan mata ini.
Hati ini tak setegar Nabi Nuh alaihi salam yang tetap tersenyum
mendapati ejekan dari kaumnya, termasuk isteri dan anaknya sendiri.
Bahkan ketika air bah datang, Nuh tetap mengajak kaum yang sebelumnya
tak henti mengejeknya sebagai orang gila. Andaikan saya yang diejek,
emosi lah yang didahulukan. Kalau perlu saya menantang siapapun
penghina itu untuk berkelahi, saling menumpahkan darah. Saya mudah
marah, gampang tersulut emosinya, mudah terprovokasi, ah jauhlah dari
sifat Nabi Nuh.
Akal pikiran ini tak secerdas Nabi Harun alaihi salam, yang karena
kecerdasannya ia diperintah Allah menemani Musa menghadapi Firaun
sekaligus menghadapi para pengikutnya. Kejernihan pikirannya,
menjadikan ia teramat mudah mendapat hikmah dari Allah. Saya
benar-benar iri kepada Nabi Harun yang tak pernah berhenti belajar.
Berbeda dengan saya yang terkadang sudah merasa cukup pintar, sering
berpikir bahwa diri ini sarat ilmu pengetahuan.
Saya benar-benar tak sebijak Nabi Sulaiman alaihi salam, dalam segala
hal. Ia yang mampu mendengar suara semut yang ketakutan akan derap
pasukan Sulaiman, bahkan sangat kasih terhadap makhluk yang sangat
kecil itu. Karena kebijaksanaannya itulah, ia dicintai oleh segenap
makhluk di bumi, dari bangsa manusia hingga jin, dari hewan di darat,
udara sampai di dalam lautan. Sulit rasanya saya sekadar mencoba
berlaku bijaksana dan adil. Saya masih egois, melihat untung rugi
dalam berbuat, mengedepankan siapa yang dekat dengan saya dan siapa
yang saya suka, bukan siapa yang benar dan berbuat kebaikan.
Nabi Isa alaihi salam mengajarkan tentang kelembutan hati. Tentang
berbagi, membantu sesama, menolong orang tanpa pamrih, meringankan
beban kaum dhuafa, menyediakan tangannya untuk orang-orang yang
kesusahan, dan mengobati yang sakit. Hatinya selalu menangis melihat
orang-orang yang menderita, dirinya selalu berada di sekeliling kaum
dhuafa. Sedangkan saya, berkali-kali menyaksikan fenomena kemiskinan,
kesusahan, penderitaan di berbagai tempat, tetap saja hati ini sekeras
batu,.Tak gampang menangis jika bukan diri ini sendiri yang mengalami
kesusahan.
Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad Sallallaahu alaihi wassallaam?
Sungguh, beliaulah teladan seluruh manusia. Tentang cinta, kasih
sayang kepada sesama, urusan rumah tangga, kelembutan sikap, kemuliaan
akhlak, tutur kata, persahabatan, persaudaraan, kepemimpinan,
berwirausaha, seluruhnya sempurna. Tak cukup jutaan lembar kertas
untuk menuliskan keindahan pribadinya, diperlukan samudera tinta guna
melukiskan kemuliaan akhlaknya.
Tetapi saya? Tak berani menyebut satu saja keunggulan pribadi diri
ini. Sebab, satu terbilang, maka seratus keburukan segera terucap.
Andaikan saya setampan Yusuf, mungkin saya akan sombong dan tak
bersyukur. Misalkan saya sepemberani Daud, belum tentu digunakan untuk
membela kebenaran. Adapun saya pernah membantu seseorang, pamrih,
ujub, riya pun mengiringi perbuatan itu.
Jangankan untuk meniru sifat para Nabi dan Rasul, mendekatinya pun tak
mungkin. Jangankan menyamai pribadi mereka, mengikuti jejak para
sahabatnya pun tak sanggup. Berkaca pada manusia-manusia pilihan-Mu ya
Rabb, saya malu, teramat malu.
Jika demikian adanya, di pintu mana saya boleh mengetuk surga-Mu?
ditulis oleh:
Sahabatku, Bayu Gautama.
Langgan:
Entri (Atom)
